Catatan Sang Nahkoda Peradaban
Naluri kepemimpinan diuji ketika diberikan amanah dipundaknya, terlebih amanah itu dipikulnya dalam kondisi serba keterbatasan dan penuh dengan problematika yang harus segera diselesaikan. Amanah itu datang untuk memberikan alternatif penyelamatan ketika bahtera ini hampir karam, karna dihantam gelombang kejenuhan yang terakumulasi yang sangat lama dan dibombardir oleh badai miskin perhatian sehingga ukhuwah tidak lagi membentengi perasaan, akibat sisi kemanusiaan yang serasa hilang.
Bagimana tidak, ketika tangan al akh memerlukan uluran tangan solusi setiap permasalahanya yang datang dari saudaranya seiman, uluran tangan itu lenyap bak gelap seakan ikatan persaudaraan itu tidak pernah ada, padahal manhaj kita mengajarkan "tolong menolonglah sesama muslim". Lantas Tarbiah ini seakan tidak pernah menjelma menjadi sebuah amal.
Begitulah sisi gelap bahtera ini yang terjadi selama ini , sehingga bahtera ini hampir karam ditelan gelombang. Itulah realitas yang harus disadari, sehingga ketika amanah ini datang untuk menahkodai bahtera yang hampir karam ini, tidk ada jalan lain yang harus dilakukan adalah "Menyelamatkan sisa penumpang yang masih bisa diselamatkan" Ambilah sekochi - sekochi kecil untuk sementara bertahan, sampai terdampar di daratan yang lebih aman dan menatap mentari dengan penuh keoptimisan.
Saudaraku seiman jangan pernah bertanya siapa yang membuat bahtera ini hampir karam, itu tidaklah penting. Yang paling penting adalah kita bangun bahtera kita ini dengan sebaik mungkin, supaya ketika badai datang , bahtera ini akan kokoh membawa peradaban ini dipuncak kecemerlangan. Wallahu A'lam
